Chitika

December 21, 2009

Sambah Manyambah

"Manitahlah Tuan", demikian teriakan seorang penghulu kaum ketika akan dimulai jamuan makan dalam rangka acara resepsi pernikahan keponakan mereka.

"Manitah" atau "manyambah" dalam budaya Minang berarti mengemukakan hajat atau niat dengan cara berpantun menggunakan majas bahasa untuk mendapatkan kata mufakat atau persetujuan melalui musyawarah. Kalau ditranslasi ke dalam bahasa Indonesia , Manitah = Bertitah , Manyambah= Menyembah. Kata ini sebenarnya tidak setinggi artinya dalam bahasa Indonesianya. Beratnya arti kata ini dimaksudkan sebagai penghormatan yang tinggi terhadap orang yang mempunyai niat dan sudi mengutarakannya dalam bentuk pantun yang bermajas. Kata "Sambah" ditunjukkan dengan posisi mengangkat dan menempelkan kedua telapak tangan diatas kepala, ditujukan kepada orang yang dimintakah untuk memulai acara "Sambah Manyambah".

Secara pribadi, menurutku "Sambah Manyambah" ini lebih condong kepada mengasah rasa seni, sopan santun, dan urutan berpikir dibandingkan tujuan bermusyawarah untuk mendapatkan mufakat. Hal ini dapat dimaklumi, karena kata-kata yang digunakan dalam "Sambah Manyambah" ini kebanyakan adalah kata-kata bermajas, kata kata sindiran, tidak langsung mengemukakan niat sesungguhnya, dimana orang harus dipaksa keras untuk menginterpretasi arti dari kata-kata tersebut. Urutan berpikir pun selalu dijaga dalam proses ini. Ketika sebuah pembicaraan disampaikan kepada sejumlah orang, maka pihak penerima harus mengulangi lagi pembicaraan tersebut sebagai konfirmasi (tentunya dengan bahasa yang bermajas juga), baru kemudian memberikan jawaban atau memusyawarahkannya lagi dengan orang lain melalui bahasa bermajas juga.

Kalaulah banyak pihak yang terlibat dalam pembicaraan itu, maka skema musyawarah lewat "Sambah Manyambah" ini seperti hirarki pohon. Pembicaraan pertama dimusyawarahkan ke level kedua yang punya lingkup lebih kecil, dst., dan sebaliknya kemudian hasil musyawarah di level terkecil dibawa ke level diatasnya, sampai akhirnya bertemu dengan yang empunya pembicaraan pertama. Akibatnya, suatu hal sederhana seperti permintaan agar seseorang laki-laki diterima di pihak perempuan dalam suatu pernikahan, bisa membutuhkan banyak persetujuan dan musyawarah di berbagai level. Level pertama misalnya penghulu pihak lelaki dan penghulu pihak perempuan, level ke dua masuk ke level perempuan, antara pihak penghulu kaum perempuan dengan mamak keluarga besar perempuan, lalu level ke tiga antara mamak keluarga besar perempuan dengan keluarga inti perempuan. Hasil musyawarah kemudian dibawa lagi tahap demi tahap ke level teratas sampai akhirnya pihak laki-laki mendapatkan jawaban musyawarah bulat dari pihak perempuan.

Dalam satu waktu, cuma ada 2 pihak yang terlibat dalam "Manyambah/Sambah-manyambah" ini, pertama adalah pihak yang mempunyai maksud dan niat tertentu, dan kedua adalah pihak yang diajak bermusyawarah mengenai maksud/niat pihak pertama. Pihak kedua akan mendengarkan "Sambah" dari pihak pertama, dan setelah pihak pertama selesai mengemukakan niatnya, maka pihak kedua akan mengkonfirmasi dulu apakah sudah tersampaikan semuanya, dan setelah dikonfirmasi maka mulailah pihak kedua memulai "Sambah" nya pula. Ini seperti aturan tidak tertulis mengenai sopan santun dalam bertutur dan aturan dalam berdiskusi. Cukup terstruktur menurutku.

Sebagai orang yang cuma beberapa kali mengikuti "Sambah Manyambah", aku bisa mengamati kalau alur sambah manyambah sebenarnya sederhana. Ada pembukaan, pengajuan niat, musyawarah, dan persetujuan/mufakat. Walaupun sederhana, tetapi dikarenakan beberapa aturan tak tertulis seperti yang ditulis diatas, maka proses ini bisa memakan waktu lama, mungkin minimal 2 jam. Hal ini cukup melelahkan dan membosankan bagi yang tidak mengerti isi dari pembicaraan tersebut.

Kalau mau dibandingkan, "Sambah Manyambah" ini berbeda dengan berbalas pantun di adat Betawi, baik dari segi cara maupun tipe pantunnya. Berbalas pantun di Betawi lebih mirip ke berbalas Pantun daerah Melayu, sementara sambah manyambah di Minangkabau tidak terlalu mengikuti pola pantun Melayu. Well, tiap daerah mempunyai budaya masing masing yang tentunya turut memperkaya khasanah budaya Nusantara kita.

"Manitahlah kini Sutan Rajo Angek", teriak seorang penghulu kaum lagi.

1 comment:

Anonymous said...

nice posting

Chitika


HTML Hit Counters